Faktor-Faktor Penentu Nilai Kepuasan Sebuah Rumah Tinggal

Desain-rumah-minimalis

Dalam membangun suatu rumah tinggal, pasti sada rasa puas yang diharapkan. Rasa puas itu dapat meningkatkan rasa nyaman bagi pemilik rumah tersebut. Banyak faktor yang menentukan rasa kepuasan mengenai bangunan tersebut yakni sebagai berikut:

  • Lokasi
  • Keindahan bentuk
  • Layout dan komposisi ruangan
  • Kesejukkan
  • Ketenangan dan ketentraman
  • Kekuatan konstruksi dan keawetan
  • Ekonomis

Tiga faktor yang disebutkan pertama yaitu lokasi, keindahan bentuk dan layout atau komposisi ruangan biasanya ditentukan oleh selera perorangan dan tidak dapat mempunyai ketentuan yang mutlak. Empat faktor yang disebut terakhir lebih bersifat pengaturan teknis yang bisa ditentukan secara rasional. Terutama mengenai kekuatan konstruksi, keawetan dan segi ekonomis adalah persoalan teknis dalam proses pengerjaannya.

Kekuatan konstruksi suatu bangunan bergantung pada besarnya beban dan gaya yang harus ditahan, sedangkan faktor keawetan banyak dipengaruhi oleh kualitas bahan yang digunakan dan iklim serta perlindungan konstruksinya terhadap pengaruh iklim tersebut.

Dengan demikian maka suatu konstruksi harus disesuaikan dengan kondisi sekitar serta iklim di daerahnya. Ekonomisnya suatu bangunan juga dipengaruhi oleh bahan penyusunnya serta beban yang harus dipikul oleh bangunan tersebut.

Suatu konstruksi yang cukup kuat dan awet serta ekonomis tidak hanya memuaskan secara teknis, tetapi juga memberikan kesenangan dan ketenangan kepada pemakainya disamping menjamin nilai dari bangunan tersebut. Jadi, betapa pentingnya desain suatu bangunan harus direncanakan dengan cermat agar bisa memberi nilai kepuasan yang tinggi kepada pemilik atau pemakainya.

Bahaya Gempa Bumi Terhadap Konstruksi Rumah dan Bangunan (II)

gempa bumi 2

Berangkat dari rentetan peristiwa gempa bumi yang mengguncang beberapa wilayah di Indonesia ini membuat pihak pemerintah dan pihak swasta akhir-akhir ini sangat sibuk melakukan perbaikan dan pembangunan kembali bangunan gedung atau rumah tinggal, terutama rumah tinggal sederhana untuk para korban gempa.

Sebagai langkah preventif, sangat penting untuk dibuat rancangan rumah tinggal untuk permukiman rakyat yang aman dari pengaruh gempa. Jika terjadi gempa, diharapkan rumah tinggal tersebut tetap kokoh sehingga kerugian harta dan korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu, mendirikan rumah atau bangunan tanpa memperhatikan faktor keamanan terhadap gempa akan menimbulkan kerugian yang lebih besar. Membangun kembali akan lebih mahal karena akan timbul biaya tambahan lain seperti membuang dan membersihkan puing-puing reruntuhan rumah.

Bicara tentang bangunan tahan gempa, sebenarnya filosofi dari bangunan tahan gempa adalah bila terjadi gempa ringan, maka bangunan tidak boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural (dinding retak, genteng dan langit-langit jatuh, kaca pecah, dan sebagainya) maupun pada komponen strukturalnya (kolom dan balok retak, pondasi amblas, dan sebagainya). Sedangkan bila terjadi gempa sedang, maka bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-strukturalnya. Akan tetapi komponen struktural tidak boleh rusak. Dan bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen strukturalnya. Akan tetapi jiwa penghuni bangunan tetap selamat, artinya sebelum bangunan tersebut runtuh, masih cukup waktu bagi penghuni bangunan untuk keluar/mengungsi ketempat aman.

Oleh karena itu, maka perlu adanya perencanaan yang matang untuk sebuah bangunan. Di Indonesia, oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah telah dibuat Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI-1726-2002) yang kemudian standar ini yang menjadi acuan standar untuk perencaan gedung tahan gempa di Indonesia.

Bahaya Gempa Bumi Terhadap Konstruksi Rumah dan Bangunan (I)

gempa bumi 2

Beberapa tahun terakhir ini bencana alam akibat gempa bumi makin sering terjadi di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa kejadian gempa bumi selama beberapa tahun terakhir yang tidak dapat dilupakan, yakni :

–          Gempa bumi di laut Flores 12 Desember 1992 (7,5 skala richter)

–          Gempa bumi di Lampung 16 Februari 1994 (7,2 SR)

–          Gempa bumi di Banyuwangi 3 Juni 1994

–          Gempa bumi di Bengkulu 4 Juni 2000

–          Gempa bumi di Pulau Alor 24 Oktober-15 November 2004 (7,3 SR)

–          Gempa bumi di Nabire 6 Februari 2004 (6,9 SR) dan 26 November 2004 (6,4 SR)

Gempa-gempa tersebut telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta penduduk yang cukup besar

Gempa lainnya terjadi pada 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di lepas pantai barat Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (8,9 SR). Gempa tersebut telah memicu gelombang Tsunami yang dampaknya terasa di 11 negara Asia dengan jumlah korban diperkirakan tidak kurang dari 80.000 jiwa.

Gempa bumi yang terjadi di daerah Sukabumi, Yogyakarta dan sekitarnya akhir-akhir ini merupakan  gempa bumi dengan skala richter yang tidak terlalu besar yaitu sekitar 5,9 sampai pada 7,3 SR. Sedangkan di daerah Mentawai, Sumatra Barat gempa bumi yang terjadi cukup kuat sehingga membuat porak-poranda beberapa rumah dan bangunan.

Penyebab utama bencana dan kerusakan terhadap lingkungan hidup adalah gaya inersia yang ditimbulkan oleh guncangan gempa yang mengakibatkan robohnya bangunan –bangunan yang tidak didesain untuk tahan terhadap gempa. Penyebab lain adalah pada saat pelaksanaan konstruksi yang buruk atau tidak mengikuti standar yang ada.