Apartemen The Peak Jakarta (Part 2)

the peak 2

Masalah kekakuan saat ini masih jarang diperhatikan di Indonesia, meski sudah umum di dunia konstruksi. Untuk mengatasi masalah kekakuan ini, Davy menerapkan sistem konstruksi corewall dan sistem outrigger. Corewall sendiri bukan barang baru. Struktur inti gedung tingkat tinggi ini berupa dinding beton dengan ketebalan tertentu dan berfungsi untuk mengikat lantai. Sedangkan outrigger adalah struktur pengaku yang berupa lengan yang terikat pada corewall hingga kolom terluar bangunan. Prinsipnya seperti perahu layar. Tiang layar adalah intinya, kemudian balok-balok silang dan layarnya adalah outrigger-nya. Sedangkan tali-tali layar yang diikatkan pada pasak adalah kolom outrigger-nya. Dengan kata lain, sistem ini memanfaatkan lebar bangunan untuk memaksimalkan kekakuan. Sistem struktur semacam itu sebenarnya sudah diterapkan sejak 1970. Pertama kali dengan menggunakan baja. Baru pada 1990-an ditemukan sistem struktur semacam ini dengan menggunakan lengan beton. Di Indonesia, The Peak adalah salah satu dari dua bangunan dengan sistem konstruksi ini.

The Peak memiliki tiga outrigger yang diletakkan di lantai 10 sampai lantai 12, lantai 21 hingga lantai 23, dan lantai 32 sampai lantai 34. Untuk mendapat kekakuan dengan tiga outrigger dalam desain struktur ini bukannya tanpa perhitungan. Untuk memperoleh perhitungan kekuatan angin, dilakukan simulasi wind tunnel atau terowongan angin. Aparteman dibentuk dalam maket berskala 1: 50 yang terbuat dari dua jenis material, yakni kayu balsa dan flexiglass. Dalam satu terowongan dihembuskan angin ke model bangunan dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Gedung ini juga dirancang untuk menahan gempa 500 tahunan berdasarkan peraturan gempa Indonesia. Beton yang digunakan juga memiliki kualitas tinggi, yaitu menggunakan beton dengan kuat tekan hingga mencapai 55 Mpa (mega-pascal).

 

 

Apartemen The Peak Jakarta (Part 1)

The-Peak

Gedung-gedung tinggi di Indonesia sebagian besar berada di Jakarta, salah satunya Apartemen The Peak. Apartemen ini memiliki dua menara dengan 35 lantai yang dinamai Regency dan Regal menghadap selatan. Sedangkan dua menara tertingginya masing-masing 215 meter dengan 55 lantai bernama Regis dan Renais menghadap utara. Menara ini didesain untuk menimbulkan presepsi manusia tentang kemegahan.

Apartemen terbagi menjadi tiga komposisi. Pertama, lay out atau ground area sebagai mata air hijau, layaknya sebuah pulau peristirahatan di tengah hiruk-pikuk dan keruwetan kota Jakarta. Kedua, menara adalah komposisi dari ekspresi linier dan kesederhanaan vertikalitas, dan terakhir puncaknya (Crown atau mahkota) adalah komposisi yang menunjukkan identitas atau ciri khas bangunan ini.

Gedung ini menggunakan konsep bangunan tinggi generasi ketiga. Generasi ketiga adalah tipe bangunan di mana gedung tinggi bisa berbentuk langsing namun tetap kaku. Dalam sejarah bangunan tinggi, gedung tinggi biasanya memiliki volume besar. Misalnya Empire State Building di Manhattan, New York, salah satu bangunan tinggi generasi pertama yang berbadan bongsor. Untuk mendapatkan kekakuan, bangunan itu memerlukan kolom-kolom berukuran besar. Salah satu penyebab munculnya generasi ketiga adalah untuk efisiensi bangunan seperti yang ingin pula dicapai oleh The Peak. Kelebihan hunian tinggi ada pada keluasan pemandangannya. Untuk mencapai ini, setiap ruangan harus memiliki jendela, dan volume bangunan tidak boleh terlalu besar agar dapat diperoleh permukaan bukaan di setiap sisinya.

Dengan konsep itu, arsitek The Peak mendesain bangunan dengan kelangsingan 1:8. Skala ini didapat dari perbandingan lebar gedung dengan tinggi gedung. Dengan ketinggian 215 meter, lebar The Peak hanya kurang lebih 27 meter. Menurut Davy Sukamta, ahli struktur yang merancang banugnan ini, bahwa dengan perbandingan tinggi dan lebar seperti itu, gedung akan rentan bergoyang. Menurutnya, setiap kali merancang bangunan tinggi yang harus dipikir adalah gedung harus kuat terhadap gaya gravitasi, gempa, dan angin. Tapi gedung bergoyang bukan berarti tidak kuat. Seperti cemara yang tertiup angin, tak lantas membuatnya roboh, tetapi tetap saja meliuk. Begitu pula gedung tinggi. Goyangan itu terjadi karena masalah stiffness atau kekakuan. Selain itu, kekakuan juga diperlukan untuk menjaga integritas materi bangunan. Sebab, meski tetap berdiri kokoh ketika bergoyang, material seperti kaca yang menempel bisa saja terlepas.

All About Taipei 101 Building

Taipei

Nama sebenarnya dari gedung ini adalah Gedung Finansial Internasional Taipei, tetapi setelah diresmikan, gedung ini lebih popular dengan sebutan Taipei 101 Building. Gedung ini terletak di distrik Xinyi, Taipei, Taiwan. Total tinggi gedung ini mencapai 509 meter atau 1.671 kaki dan tercatat sebagai gedung tertiggi kedua di dunia setelah berhasil lulus tiga dari empat standar yang dibuat oleh Konsil Gedung Tertinggi dan Habitat Urban.

Gedung ini diresmikan penggunaannya secara penuh pada tanggal 31 Desember 2004, di tengah perayaan tahun baru yang diselenggarakan dengan pesta yang begitu semarak di kota Taipei.

Dalam beberapa aspek, Taipei 101 Building adalah salah satu pencakar langit yang paling maju yang pernah dibuat sampai sekarang. Gedung ini memiliki keunggulan yaitu penggunaan jaringan komunikasi menggunakan fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabit per detik. Untuk mendukung mobilitas penghuni dan penggunanya, menara ini dilengkapi dengan dua lift paling cepat di dunia untuk ukuran gedung tertinggi. Kecepatan optimumnya mencapai 1.010 meter per menit ketika bergerak naik dan 600 meter per menit saat turun. Itu artinya, lift ini bergerak dengan kecepatan 60,6 km per jam.

Luas total Taipei 101 Building mencapai 450.000 m2 dengan 214.000 m2 untuk perkantoran, 77.500 m2 untuk perdagangan, dan 73.000 m2 untuk tempat parkir. Untuk menstabilkan menara terhadap guncangan gempa, angin topan,dan terpaan angin, sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88.

taiwan_Taipei-101