Membeli Rumah dengan Kredit

kpr

Meningkatnya harga rumah akhir-akhir ini menjadi sangat pesat. Untuk daerah sekitar Jakarta saja, harga rumah tipe kecil sudah di atas 400 juta. Apalagi rumah-rumah di daerah yang strategis di tengah kota, rasanya sudah tidak sanggup bagi masyarakat menegah ke bawah untuk bisa membeli rumah tinggal secara tunai.  Kemudian membeli rumah secara KPR menjadi alternatif andalan yang dipilih masyarakat menengah ke bawah.  Membeli rumah secara KPR hanya memerlukan uang muka atau DP 20% hingga 50% dari harga yang ditawarkan. Biaya sisa dari uang muka yang kemudian dicicil setiap bulannya kepada pihak bank. Dengan KPR kita bisa memiliki properti sehingga KPR termasuk kredit yang produktif.

Untuk membeli rumah secara KPR, bagi karyawan diperlukan adanya data-data dari orang yang bersangkutan seperti slip gaji, rekening tabungan dan laporan keuangan perusahaan jika diajukan oleh seorang pengusaha. Dari data-data tersebut bank kemudian akan melakukan analisa kelayakan serta jumlah nilai yang bisa diberikan. Bank juga akan menentukan besarnya jumlah cicilan maksimal yang bisa ditanggung (biasanya adalah 30% dari jumlah pendapatan) untuk menjamin bahwa calon kreditur akan selalu bisa membayar cicilan tiap bulannya. Biasanya yang membuat calon kreditur tidak mendapatkan persetujuan KPR karena besarnya pendapatan yang relative lebih kecil sedangkan nilai rumah yang akan dibeli calon kreditur bernilai terlalu tinggi, bisa ratusan hingga miliyaran rupiah.

Dengan adanya fasilitas KPR, diharapkan dapat menjadi solusi bagi semua masyarakat untuk dapat memiliki rumah tinggal yang diidamkannya sesuai dengan pendapatan yang dimiliki. Dan bagi masyarakat yang membeli rumah secara KPR juga mengharapkan bahwa nilai property yang dibeli akan jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah utang beserta bunga dari cicilan yang harus dibayarkan sehingga property yang dibeli juga bernilai menjadi aset.

Biaya Kepemilikan Peralatan Konstruksi

calculator

Kepemilikan peralatan konstruksi yang dimiliki baik dengan cara membeli, leasing maupun sewa akan terkena beban biaya kepemilikan. Biaya kepemilikan adalah beban biaya yang harus ditanggung pihak kontraktor atas kepemilikan peralatan konstruksinya. Biaya kepemilikan dapat dibagi menjadi biaya pemilikan tetap (fixed cost), biaya pemilikan berubah (variable cost) maupun biaya penyusutan (depresiasi).

Biaya pemilikan tetap (fixed cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk memiliki peralatan yang meliputi beban registrasi tahunan, beban asuransi tahunan, beban pemeriksaan atau lesensi tahunan, biaya administrasi, perlengkapan khusus untuk perbaikan tahunan, dan biaya perlengkapan serta fasilitasnya.

Biaya pemilikan berubah (variable cost) adalah biaya pemilikan tidak tetap yang ditimbulkannya oleh karena adanya aktivitas bekerjanya peralatan, sehingga tergantung dari jumlah dan jenis pemakaian peralatan yang meliputi biaya bahan bakar,biaya operator, biaya pelumas biaya ban, biaya suku cadang, biaya perbaikan tidak terduga  maupun biaya overhaul (pemeliharaan besar) yang dijadwalkan, serta biaya pemindahan alat (mobilisasi).

Biaya penyusutan (depresiasi) adalah selisih antara biaya awal dengan nilai jual kembali yang diperhitungkan berdasarkan waktu dengan menggunakan satu bulan sebagi periode satuan waktu. Biaya penyusutan disebabkan karena adanya keausan dan kerusakan secara alamiah akibat dari pengunaan alat serta penurunan nilai karena keusangan alat akibat ditemukannya teknologi yang lebih baru.

Cara Pengadaan Peralatan Konstruksi

alat

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai metode pelaksanaan konstruksi dimana peralatan konstruksi merupakan salah satu sumber daya terpenting yang membutuhkan metode tertentu demi tercapainya tujuan suatu proyek. Pengadaan peralatan konstruksi bisa dibagi menjadi 3 macam.

Pertama adalah pengadaaan peralatan konstruksi dengan cara membeli.  Pembelian peralatan adalah pembiayaan awal  (Biaya modal) proyek meliputi pembayaran tunai untuk harga pembelian atas alat-alat yang dibutuhkan termasuk pembayaran bea masuk / pajak impor, bea materai, ongkos angkut dan ongkos perakitan atau modifikasi.

Biasanya, kontraktor yang terlibat dengan jenis proyek yang membutuhkan alat-alat yang serupa dengan proyek lainnya akan memilih untuk membeli langsung peralatan konstruksinya sendiri untuk pengerjaan proyeknya. Akan tetapi, bila biaya pembelian alat konstruksi tersebut terlalu besar dari modal yang dimiliki, maka pihak kontraktor akan melakukan pengadaan  peralatan konstruksi dengan cara sewa beli (leasing).

Leasing adalah menyewa alat dengan waktu penuh serta kemungkinan membeli alat tersebut setelah selang waktu tertentu. Biasanya, untuk melakukan leasing alat selalu ada perjanjian sewa beli yang mengatur pembayaran angsuran tunai kepada perusahaan keuangan selama jangka waktu tertentu (biasanya 2/3 atau ¾ dari perkiraan usia alat). Untuk pembayaran angsurannya sendiri meliputi 2 bagian yaitu bagian yang merupakan pembayaran kembali biaya modal alat serta bagian yang merupakan beban bunga.

Cara pengadaan alat yang terakhir adalah dengan cara menyewa. Menyewa peralatan akan bernilai lebih ekonomis jika pihak kontraktor tersebut hanya mempunyai jumlah proyek yang terbatas untuk pengunaan alat yang sama. Selain harus membayar biaya sewa, pihak kontraktor diharuskan juga untuk membayar ongkos angkut untuk datang dan kembali (mobilisasi dan demobilisasi), biaya perakitan dan pembongkaran, jasa operator, dan biaya bahan bakar jika diperlukan.

Metode Pelaksanaan Konstruksi

construction_site

Dalam melakukan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu sistem manajemen yang baik jika proyek tersebut ingin berhasil dicapai. Berbagai metode dilakukan oleh pihak pelaksana untuk tercapainya tujuan proyek dengan baik. Metode-metode tersebut kemudian dikenal dengan istilah metode pelaksanaan konstruksi. Dimana semua metode itu mempunyai satu tujuan yang terpenting yaitu bagaimana menggabungkan semua sumber daya untuk tercapainya tujuan proyek tersebut. Salah satu sumber daya terpenting adalah peralatan konstruksi .  Peralatan konstruksi harus tepat penggunaannya dan terkoordinasi dengan baik agar efisien. Ketepatan penggunaan peralatan tergantung dari faktor biaya, waktu, dan faktor sosial. Oleh karena itu, dalam pemilihan peralatan konstruksi harus matang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan peralatan :

–          Keandalan alat

–          Kebutuhan pelayanan

–          Ketersediaan suku cadang

–          Kemudahan pemeliharaan yang dapat dilakukan

–          Kemampuan alat untuk digunakan dalam berbagai macam kondisi

–          Kemudahan untuk diangkut dan dipindahkan

–          Permintaan akan alat dan harga penjualannya kembali

–          Tenggang waktu dalam penyerahan alat.

Peralatan konstruksi dapat diperoleh dengan beberapa cara.  Cara-cara tersebut tergantung kebijakan organisasi si pelaksana, volume pekerjaan yang tersedia bagi setiap alat, ketersediaan uang tunai dalam organisasi, perkiraan aliran tunai dalam perusahaan, serta ketersediaan alat yang sudah dipertimbangkan itu sendiri. Adapun cara-cara pengadaan peralatan konstruksi akan dibahas pada artikel NJKontraktor selanjutnya.

Apartemen The Peak Jakarta (Part 2)

the peak 2

Masalah kekakuan saat ini masih jarang diperhatikan di Indonesia, meski sudah umum di dunia konstruksi. Untuk mengatasi masalah kekakuan ini, Davy menerapkan sistem konstruksi corewall dan sistem outrigger. Corewall sendiri bukan barang baru. Struktur inti gedung tingkat tinggi ini berupa dinding beton dengan ketebalan tertentu dan berfungsi untuk mengikat lantai. Sedangkan outrigger adalah struktur pengaku yang berupa lengan yang terikat pada corewall hingga kolom terluar bangunan. Prinsipnya seperti perahu layar. Tiang layar adalah intinya, kemudian balok-balok silang dan layarnya adalah outrigger-nya. Sedangkan tali-tali layar yang diikatkan pada pasak adalah kolom outrigger-nya. Dengan kata lain, sistem ini memanfaatkan lebar bangunan untuk memaksimalkan kekakuan. Sistem struktur semacam itu sebenarnya sudah diterapkan sejak 1970. Pertama kali dengan menggunakan baja. Baru pada 1990-an ditemukan sistem struktur semacam ini dengan menggunakan lengan beton. Di Indonesia, The Peak adalah salah satu dari dua bangunan dengan sistem konstruksi ini.

The Peak memiliki tiga outrigger yang diletakkan di lantai 10 sampai lantai 12, lantai 21 hingga lantai 23, dan lantai 32 sampai lantai 34. Untuk mendapat kekakuan dengan tiga outrigger dalam desain struktur ini bukannya tanpa perhitungan. Untuk memperoleh perhitungan kekuatan angin, dilakukan simulasi wind tunnel atau terowongan angin. Aparteman dibentuk dalam maket berskala 1: 50 yang terbuat dari dua jenis material, yakni kayu balsa dan flexiglass. Dalam satu terowongan dihembuskan angin ke model bangunan dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Gedung ini juga dirancang untuk menahan gempa 500 tahunan berdasarkan peraturan gempa Indonesia. Beton yang digunakan juga memiliki kualitas tinggi, yaitu menggunakan beton dengan kuat tekan hingga mencapai 55 Mpa (mega-pascal).