Apartemen The Peak Jakarta (Part 1)

The-Peak

Gedung-gedung tinggi di Indonesia sebagian besar berada di Jakarta, salah satunya Apartemen The Peak. Apartemen ini memiliki dua menara dengan 35 lantai yang dinamai Regency dan Regal menghadap selatan. Sedangkan dua menara tertingginya masing-masing 215 meter dengan 55 lantai bernama Regis dan Renais menghadap utara. Menara ini didesain untuk menimbulkan presepsi manusia tentang kemegahan.

Apartemen terbagi menjadi tiga komposisi. Pertama, lay out atau ground area sebagai mata air hijau, layaknya sebuah pulau peristirahatan di tengah hiruk-pikuk dan keruwetan kota Jakarta. Kedua, menara adalah komposisi dari ekspresi linier dan kesederhanaan vertikalitas, dan terakhir puncaknya (Crown atau mahkota) adalah komposisi yang menunjukkan identitas atau ciri khas bangunan ini.

Gedung ini menggunakan konsep bangunan tinggi generasi ketiga. Generasi ketiga adalah tipe bangunan di mana gedung tinggi bisa berbentuk langsing namun tetap kaku. Dalam sejarah bangunan tinggi, gedung tinggi biasanya memiliki volume besar. Misalnya Empire State Building di Manhattan, New York, salah satu bangunan tinggi generasi pertama yang berbadan bongsor. Untuk mendapatkan kekakuan, bangunan itu memerlukan kolom-kolom berukuran besar. Salah satu penyebab munculnya generasi ketiga adalah untuk efisiensi bangunan seperti yang ingin pula dicapai oleh The Peak. Kelebihan hunian tinggi ada pada keluasan pemandangannya. Untuk mencapai ini, setiap ruangan harus memiliki jendela, dan volume bangunan tidak boleh terlalu besar agar dapat diperoleh permukaan bukaan di setiap sisinya.

Dengan konsep itu, arsitek The Peak mendesain bangunan dengan kelangsingan 1:8. Skala ini didapat dari perbandingan lebar gedung dengan tinggi gedung. Dengan ketinggian 215 meter, lebar The Peak hanya kurang lebih 27 meter. Menurut Davy Sukamta, ahli struktur yang merancang banugnan ini, bahwa dengan perbandingan tinggi dan lebar seperti itu, gedung akan rentan bergoyang. Menurutnya, setiap kali merancang bangunan tinggi yang harus dipikir adalah gedung harus kuat terhadap gaya gravitasi, gempa, dan angin. Tapi gedung bergoyang bukan berarti tidak kuat. Seperti cemara yang tertiup angin, tak lantas membuatnya roboh, tetapi tetap saja meliuk. Begitu pula gedung tinggi. Goyangan itu terjadi karena masalah stiffness atau kekakuan. Selain itu, kekakuan juga diperlukan untuk menjaga integritas materi bangunan. Sebab, meski tetap berdiri kokoh ketika bergoyang, material seperti kaca yang menempel bisa saja terlepas.

All About Taipei 101 Building

Taipei

Nama sebenarnya dari gedung ini adalah Gedung Finansial Internasional Taipei, tetapi setelah diresmikan, gedung ini lebih popular dengan sebutan Taipei 101 Building. Gedung ini terletak di distrik Xinyi, Taipei, Taiwan. Total tinggi gedung ini mencapai 509 meter atau 1.671 kaki dan tercatat sebagai gedung tertiggi kedua di dunia setelah berhasil lulus tiga dari empat standar yang dibuat oleh Konsil Gedung Tertinggi dan Habitat Urban.

Gedung ini diresmikan penggunaannya secara penuh pada tanggal 31 Desember 2004, di tengah perayaan tahun baru yang diselenggarakan dengan pesta yang begitu semarak di kota Taipei.

Dalam beberapa aspek, Taipei 101 Building adalah salah satu pencakar langit yang paling maju yang pernah dibuat sampai sekarang. Gedung ini memiliki keunggulan yaitu penggunaan jaringan komunikasi menggunakan fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabit per detik. Untuk mendukung mobilitas penghuni dan penggunanya, menara ini dilengkapi dengan dua lift paling cepat di dunia untuk ukuran gedung tertinggi. Kecepatan optimumnya mencapai 1.010 meter per menit ketika bergerak naik dan 600 meter per menit saat turun. Itu artinya, lift ini bergerak dengan kecepatan 60,6 km per jam.

Luas total Taipei 101 Building mencapai 450.000 m2 dengan 214.000 m2 untuk perkantoran, 77.500 m2 untuk perdagangan, dan 73.000 m2 untuk tempat parkir. Untuk menstabilkan menara terhadap guncangan gempa, angin topan,dan terpaan angin, sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88.

taiwan_Taipei-101

Rumah Tinggal Mediterania

rumah-mediterania

Salah satu jenis rumah tinggal yang cukup popular di kalangan masyarakat Indonesia adalah rumah tingal bergaya mediterania. Arsitektur mediterania merupakan jenis desain bangunan yang pada zaman dahulu digunakan oleh raja-raja Eropa atau orang-orang yang mempunyai kekuasaan yang cukup tinggi dan banyak berkembang di negara Romawi, Spanyol dan Italia. Gaya hunian mediterania yang diminati di Indonesia memiliki ciri khas desain Spanyol dengan pilar-pilar tinggi dan lengkungan yang menyerupai kubah. Gaya arsitektur hunian ini terkesan mewah, eksklusif dan mampu memberi sentuhan keindahan yang elegan.

Desain yang unik dan elegan ini yang membuat timbul minat masyarakat untuk memilikinya. Untuk pewarnaan, rumah tinggal jenis mediterania ini umumnya menggunakan warna-warna yang hangat dan alami  baik untuk bagian luar maupun bagian dalam rumah. Warna-warna tersebut diterapkan dengan gradasi yang berbeda antara dinding dengan tiang dan balkon.

Berkembanganya gaya pewarnaan hunian jenis mediterania ini membuat masyarakat Indonesia ikut tertarik untuk mengaplikasikannya pada hunian mereka. Kesan menawan yang ditampilkan dari gaya mediterania dapat ditampilkan pada semua jenis hunian yaitu dengan menerapkan warna-warna yang identik dengan bangunan meditrania misalnya coklat dikombinasikan dengan warna terakota. Coklat dapat digunakan pengisi warna utama pada dinding rumah, lalu dipadukan dengan warna terakota untuk bagian atapnya. Dengan begitu, gaya mediterania yang unik pun bisa tercipta pada setiap jenis hunian.

Kelebihan Tinggal di Perumahan Cluster

Hingga saat ini, mempunyai rumah tinggal masih menjadi pilihan dibandingkan dengan tinggal di apartemen. Tetapi yang menjadi masalah adalah di kota-kota besar untuk mendapatkan lahan yang cocok untuk di bangun rumah tinggal sudah sangat jarang ditemui.

Oleh karena ini, para pengembang berinovasi dengan menciptakan kawasan perumahan di daerah pinggiran kota besar. Perumahan tersebut dibangun dalam bentuk cluster-cluster. Perumahan tipe cluster saat ini menjadi favorit bagi masyarakat perkotaan. Sehingga para pengembang berlomba-lomba membangun perumahan cluster.

Bagi sebagian masyarakat, tinggal dalam perumahan cluster terasa nyaman karena terciptanya hubungan antar tetangga yang baik. Interaksi sosial terjalin dengan baik karena antara penghuni bisa saling mengenal satu sama lain.

Biasanya para pengembang juga akan melengkapi perumahan ini dengan berbagai fasilitas seperti jogging track, taman bermain anak, lapangan tenis,  kolam renang dan fasilitas lainnya.  Selain fasilitas-fasilitas hiburan tersebut, bisa dipastikan bahwa perumahan cluster pasti sudah dilengkapi dengan fasilitas air bersih, listrik dan drainage yang baik karena hal ini yang biasanya menjadi hal serius yang disediakan pengembang untuk menambah nilai jualnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dari factor keamaannya. Jelas kalau perumahan cluster pasti sudah terjamin keamanannya. Biasanya perumahan tipe ini sudah diawasi oleh petugas keamanan dan hanya memiliki satu akses pintu masuk.  Dan untuk masuk keluar juga petugas akan meminta kartu identitas.

Dengan kelebihan-kelebihan yang ada, membuat masyarakat cenderung akan lebih memilih perumahan cluster karena merasa nyaman, aman dan tidak takut kalau rumahnya akan terkena banjir atau kesusahan mendapatkan air bersih.

Syarat Rumah Tinggal Sehat

Green-modern-3

Rumah tinggal merupakan kebutuhan semua manusia dan juga menjadi tolak ukur bagi kesehatan masyarakat. Rumah tinggal yang layak huni haruslah rumah memenuhi persyaratan kebersihan agar penghuni didalamnya tetap bisa hidup sehat. Rumah tinggal yang sehat tidak terlepas dari ketersediaan prasarana dan sarana yang terkait, seperti ketersediaan akan air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah yang baik, transportasi dan tersedianya pelayanan sosial.

 Secara umum, rumah terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang digunakan sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik demi kesehatan keluarga dan individu. (WHO, 2001).

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 829/Menkes/SK/VII/1999, ada beberapa kriteria rumah yang sehat. Yang pertama dari bahan bangunan. Bahan bangunan yang baik adalah bahan yang tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat yang dapat membahayakan kesehatan. Kemudian dari komponen dan penataan ruangan. Hal yang harus diperhatikan adalah lantai yang kedap air, mudah dibersihkan dan dinding memiliki ventilasi yang cukup/minimal 10% dari luas dinding yang ada.

Dari segi cahaya, pencahayaan alam ataupun buatan dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata. Untuk penyediaan air yang baik adalah tersedianya sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter per orang setiap hari. Untuk pengelolaan limbah , limbah harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari permukaan tanah, sumber air dan air tanah. Hal terakhir adalah kepadatan hunian. Luas kamar tidur yang baik harus memiliki luas minimal 8 meter persegi, dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2 orang tidur.