Biaya Kepemilikan Peralatan Konstruksi

calculator

Kepemilikan peralatan konstruksi yang dimiliki baik dengan cara membeli, leasing maupun sewa akan terkena beban biaya kepemilikan. Biaya kepemilikan adalah beban biaya yang harus ditanggung pihak kontraktor atas kepemilikan peralatan konstruksinya. Biaya kepemilikan dapat dibagi menjadi biaya pemilikan tetap (fixed cost), biaya pemilikan berubah (variable cost) maupun biaya penyusutan (depresiasi).

Biaya pemilikan tetap (fixed cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk memiliki peralatan yang meliputi beban registrasi tahunan, beban asuransi tahunan, beban pemeriksaan atau lesensi tahunan, biaya administrasi, perlengkapan khusus untuk perbaikan tahunan, dan biaya perlengkapan serta fasilitasnya.

Biaya pemilikan berubah (variable cost) adalah biaya pemilikan tidak tetap yang ditimbulkannya oleh karena adanya aktivitas bekerjanya peralatan, sehingga tergantung dari jumlah dan jenis pemakaian peralatan yang meliputi biaya bahan bakar,biaya operator, biaya pelumas biaya ban, biaya suku cadang, biaya perbaikan tidak terduga  maupun biaya overhaul (pemeliharaan besar) yang dijadwalkan, serta biaya pemindahan alat (mobilisasi).

Biaya penyusutan (depresiasi) adalah selisih antara biaya awal dengan nilai jual kembali yang diperhitungkan berdasarkan waktu dengan menggunakan satu bulan sebagi periode satuan waktu. Biaya penyusutan disebabkan karena adanya keausan dan kerusakan secara alamiah akibat dari pengunaan alat serta penurunan nilai karena keusangan alat akibat ditemukannya teknologi yang lebih baru.

Cara Pengadaan Peralatan Konstruksi

alat

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai metode pelaksanaan konstruksi dimana peralatan konstruksi merupakan salah satu sumber daya terpenting yang membutuhkan metode tertentu demi tercapainya tujuan suatu proyek. Pengadaan peralatan konstruksi bisa dibagi menjadi 3 macam.

Pertama adalah pengadaaan peralatan konstruksi dengan cara membeli.  Pembelian peralatan adalah pembiayaan awal  (Biaya modal) proyek meliputi pembayaran tunai untuk harga pembelian atas alat-alat yang dibutuhkan termasuk pembayaran bea masuk / pajak impor, bea materai, ongkos angkut dan ongkos perakitan atau modifikasi.

Biasanya, kontraktor yang terlibat dengan jenis proyek yang membutuhkan alat-alat yang serupa dengan proyek lainnya akan memilih untuk membeli langsung peralatan konstruksinya sendiri untuk pengerjaan proyeknya. Akan tetapi, bila biaya pembelian alat konstruksi tersebut terlalu besar dari modal yang dimiliki, maka pihak kontraktor akan melakukan pengadaan  peralatan konstruksi dengan cara sewa beli (leasing).

Leasing adalah menyewa alat dengan waktu penuh serta kemungkinan membeli alat tersebut setelah selang waktu tertentu. Biasanya, untuk melakukan leasing alat selalu ada perjanjian sewa beli yang mengatur pembayaran angsuran tunai kepada perusahaan keuangan selama jangka waktu tertentu (biasanya 2/3 atau ¾ dari perkiraan usia alat). Untuk pembayaran angsurannya sendiri meliputi 2 bagian yaitu bagian yang merupakan pembayaran kembali biaya modal alat serta bagian yang merupakan beban bunga.

Cara pengadaan alat yang terakhir adalah dengan cara menyewa. Menyewa peralatan akan bernilai lebih ekonomis jika pihak kontraktor tersebut hanya mempunyai jumlah proyek yang terbatas untuk pengunaan alat yang sama. Selain harus membayar biaya sewa, pihak kontraktor diharuskan juga untuk membayar ongkos angkut untuk datang dan kembali (mobilisasi dan demobilisasi), biaya perakitan dan pembongkaran, jasa operator, dan biaya bahan bakar jika diperlukan.

Metode Pelaksanaan Konstruksi

construction_site

Dalam melakukan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu sistem manajemen yang baik jika proyek tersebut ingin berhasil dicapai. Berbagai metode dilakukan oleh pihak pelaksana untuk tercapainya tujuan proyek dengan baik. Metode-metode tersebut kemudian dikenal dengan istilah metode pelaksanaan konstruksi. Dimana semua metode itu mempunyai satu tujuan yang terpenting yaitu bagaimana menggabungkan semua sumber daya untuk tercapainya tujuan proyek tersebut. Salah satu sumber daya terpenting adalah peralatan konstruksi .  Peralatan konstruksi harus tepat penggunaannya dan terkoordinasi dengan baik agar efisien. Ketepatan penggunaan peralatan tergantung dari faktor biaya, waktu, dan faktor sosial. Oleh karena itu, dalam pemilihan peralatan konstruksi harus matang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan peralatan :

–          Keandalan alat

–          Kebutuhan pelayanan

–          Ketersediaan suku cadang

–          Kemudahan pemeliharaan yang dapat dilakukan

–          Kemampuan alat untuk digunakan dalam berbagai macam kondisi

–          Kemudahan untuk diangkut dan dipindahkan

–          Permintaan akan alat dan harga penjualannya kembali

–          Tenggang waktu dalam penyerahan alat.

Peralatan konstruksi dapat diperoleh dengan beberapa cara.  Cara-cara tersebut tergantung kebijakan organisasi si pelaksana, volume pekerjaan yang tersedia bagi setiap alat, ketersediaan uang tunai dalam organisasi, perkiraan aliran tunai dalam perusahaan, serta ketersediaan alat yang sudah dipertimbangkan itu sendiri. Adapun cara-cara pengadaan peralatan konstruksi akan dibahas pada artikel NJKontraktor selanjutnya.